GTM atau Gerakan Tutup Mulut pada umumnya terjadi pada anak usia pra sekolah atau pada rentan usia 2 sampai 5 tahun. Dalam rentan usia ini anak sedang mengalami tahap eksplorasi dan pengembangan keterampilan motorik oral. Mereka mungkin sedang bereksperimen dengan gerakan ini sebagai bagian dari proses. Pada artikel kali ini kita akan membahas bagaimana sih mengatasi anak yang sedang berada di fase GTM? Simak sampai habis ya!
Setiap anak mengalami proses perkembangan yang berbeda. Tidak semua anak akan melewati fase ini. Namun beberapa anak mungkin akan melakukan hal serupa dalam rentan usia yang lebih tua atau bahkan lebih muda. Sebelum kita membahas bagaimana tips mengatasinya, penting untuk memahami apa penyebabnya. Sehingga dengan demikian parents bisa mengambil langkah yang sesuai untuk membantu anak mengembangkan keterampilan komunikasi yang lebih baik. Berikut adalah beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi fase GTM pada anak:
Ketidaknyamanan atau stress, mungkin saja anak merasa tidak nyaman atau stress dalam situasi tertentu. Seperti saat mereka merasa terancam atau cemas, hal ini menjadi cara mereka untuk menenangkan diri atau mengurangi ketegangan.
Keterbatasan komunikasi, anak yang memiliki kesulitan dalam menyampaikan sesuatu secara verbal mungkin akan memakai cara ini sebagai alternatif untuk menyampaikan perasaan. Biasanya hal ini terjadi pada anak dengan keterlambatan bicara atau gangguan komunikasi lainya.
Tidak mampu menyampaikan emosi, beberapa anak mungkin belum memiliki keterampilan verbal untuk menyampaikan emosi. Sehingga GTM ini menjadi cara mereka mengungkapkan perasaan seperti frustasi, marah, atau gembira.
Model perilaku, anak bisa jadi meniru perilaku yang mereka lihat. Termasuk orang dewasa atau anak seusianya. Saat mereka melihat orang lain melakukan GTM, mereka mungkin akan menirunya sebagai cara berkomunikasi.
Perkembangan bahasa dan motorik, isa jadi pada masa ini merupakan bagian dari tahapan perkembangan motorik oral. Hal ini merupakan proses alami di mana anak bereksplorasi dengan mulut dan lidah mereka.
Stimulasi yang berlebihan, bisa jadi anak melakukan GTM karena overstimulasi karena lingkungan yang ramai. Sehingga gerakan seperti ini adalah cara mereka merespon dan mengelola stimulasi tersebut.
Mengatasi GTM (gerakan tutup mulut) pada anak di rumah memerlukan pendekatan yang sabar dan pemahaman tentang kebutuhan anak secara individual. Berikut beberapa tips yang bisa Parents coba:
Pahami penyebabnya, parents perlu perhatikan anak dengan seksama untuk memahami situasi atau kondisi tertentu yang memicu GTM. hal ini akan membantu parents menanggapi dengan tepat dan efektif.
Berikan alternatif komunikasi, bantu anak untuk mengembangkan cara lain untuk komunikasi. Parents bisa mengajarkan melalui kata, gambar, atau bahasa tubuh untuk menyampaikan perasaan mereka.
Jadi teladan positif, tunjukkan pada anak cara komunikasi yang baik dan jelas. Parents perlu bicara dengan tenang dan kata yang mudah dimengerti. Hindari merespon GTM dengan marah atau frustasi ya parents!
Dorong ekspresi verbal, berikan dorongan dan dukungan pada anak untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan mereka secara verbal. Ajak mereka bicara mengenai apa yang mereka rasakan atau butuhkan.
Berikan waktu untuk berbicara, berikan waktu khusus setiap hari dimana parents dapat dengan fokus mendengarkan anak. Dengan demikian akan dapat membantu mereka merasa didengar dan meningkatkan kemampuan mereka dalam berkomunikasi.
Gunakan penghargaan positif, berikan pujian atau hadiah jika anak mampu mengungkapkan pikiran mereka dengan jelas.
Hindari tekanan berlebihan, jangan memaksa anak untuk berhenti melakukan GTM secara tiba-tiba. Karena hal ini hanya akan menambah stress dan mungkin akan memperburuk perilaku tersebut.
Konsisten, terapkan pendekatan secara konsisten dalam mengatasi GTM. dengan demikian akan membantu sang anak untuk memahami apa yang diharapkan dari mereka.
Bekerjasama dengan para ahli, jika perlu, konsultasikan hal ini dengan dokter spesialis anak atau psikolog. Sehingga parents dapat menerima saran yang lebih spesifik dan mendalam untuk mengatasi masalah ini.
Berikan dukungan secara emosional, tunjukkan kepada anak bahwa anda mendukung mereka mengatasi kesulitan komunikasi. Dengan demikian akan menumbuhkan rasa percaya diri anak dan mengurangi kecenderungan melakukan GTM.
Mengatasi hal ini pada anak membutuhkan kesabaran dan pendekatan secara berkesinambungan. Dengan memberikan dukungan yang tepat akan membangung komunikasi yang positif. Parents dapat membantu anak untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dengan lebih baik.
Menyediakan makanan yang tepat dan disukai akan dapat membantu mengurangi atau mengalihkan perilaku ini. Berikut adalah beberapa resep yang bisa parents coba dirumah:
Parents dapat menggunakan buah favorit anak seperti pisang, mangga, atau berry. Parents tinggal siapkan bahan lainya seperti susu atau yogurt plain, dan sedikit madu atau sirup maple sebagai pemanis pengganti gula. Cara membuatnya cukup mudah, parents tinggal memotong buah-buahan menjadi potongan kecil lalu blender dengan konsistensi yang diinginkan. Tambahkan sedikit madu atau sirup maple jika ingin menjadi sedikit lebih manis. Parents bisa sajikan dalam gelas atau mangkuk yang menarik perhatian anak.
Selain membuat smoothie, parents juga bisa membuat pancake dengan beberapa pilihan topping yang anak suka. Parents hanya perlu menyiapkan bahan nya seperti tepung pancake instan atau buat sendiri yang terdiri dari tepung dan baking powder. Lalu parents tambahkan dengan telur, susu, dan sedikit gula. Parents tinggal panaskan pan dan tuangkan adonan dengan ukuran mini. Panggang kedua sisi pancake hingga kecoklatan lalu tambahkan topping favorit anak. Bisa potongan buah, kacang almond cincang, atau bisa juga dengan yogurt.
Bahan yang perlu Parents siapkan antara lain adalah roti gandum, keju cheddar atau mozarella yang dipotong tipis. Serta sayuran favorit anak seperti irisan timun atau tomat cherry. Cara memasaknya gampang, parents tinggal memanggang roti dengan sedikit mentega hingga kecoklatan, lalu letakkan keju di atas satu sisi roti, berikan irisan sayuran di atas keju, lalu tutup dengan roti panggang lainya. Parents bisa memotong sandwich ini sesuai dengan selera anak.
Bahan yang perlu parents siapkan antara lain adalah pisang matang yang sudah dihaluskan, blueberry segar atau yang sudah dibekukan, tepung terigu, baking powder, telur, minyak sayur, dan sedikit gula atau madu. Cara membuatnya cukup campurkan pisang yang sudah dihaluskan dan blueberry kedalam mangkuk besar. Lalu tambahkan tepung terigu, baking powder, telur, minyak sayur, dan gula. Aduk rata lalu tuangkan adonan kedalam cetakan muffin. Parents bisa panggang adonan ini selama 20-25 menit hingga matang kecoklatan, lalu dinginkan sebelum disajikan.
Untuk membuat makanan anak yang sedang mengalami GTM, pastikan makanan yang disajikan tidak terlalu sulit untuk dikunyah atau dihisap. Terutama untuk anak yang masih dalam tahap perkembangan motorik oral. Libatkan juga anak untuk membantu proses memilih bahan dan memasak makanan. Dengan demikian akan meningkatkan minat mereka untuk mencoba makanan baru. Perhatikan juga preferensi makanan anak dan sesuaikan dengan resep yang disukai.
Sekedar informasi untuk Parents yang ingin memberikan kualitas pendidikan terbaik untuk anak. Yayasan Habibi Indonesia mengelola sekolah Yaa Bunayya 3 Jogja. Lembaga ini merupakan lembaga pendidikan PAUD, KB, TK dan Daycare unggulan di Yogyakarta. Lembaga ini didirikan dengan tujuan untuk membentuk karakter anak bangsa yang berakhlak, dan mencetak generasi unggul dan kompetitif di berbagai bidang. Untuk info pendaftaran lebih lanjut, Parents bisa hubungi nomor WhatsApp admin untuk konsultasi ya! Jadi tunggu apalagi nih? Segera daftarkan putra dan putri anda, dan mari kita lahirkan generasi bangsa yang cerdas bersama!
Sekolah Yaa Bunayya 3 Jogja yang dikelola oleh YAYASAN HABIBI INDONESIA.
Merupakan sekolah TK cabang YAA BUNAYYA dibawah Yayasan Hidayatullah.